Self-Harm, Bukan Sekedar Menyakiti Diri
- 05 July 2023
Oleh : Agnes Nugrawati Salim, M.Psi.
Aspek percintaan merupakan salah satu hal penting yang harus dieksplorasi oleh seseorang, dan biasanya dimulai pada usia remaja akhir hingga dewasa awal. Eksplorasi pada aspek percintaan ini dapat membantu seseorang untuk memenuhi salah satu tahap perkembangan, yaitu menjalin hubungan romantis. Hubungan romantis atau lebih dikenal dengan istilah “pacaran” adalah interaksi timbal balik, untuk membentuk perjanjian atau komitmen secara sukarela, antara dua orang yang tertarik secara sosial, romantis, atau seksual. Hubungan romantis ditandai dengan ekspresi spesifik terkait kasih sayang dan keintiman.
Menjalin sebuah hubungan romantis atau pacaran ini sebenarnya merupakan hal yang penting dan dapat membantu untuk menjaga kesehatan mental seseorang. Berkaitan dengan pacaran, beberapa tahun belakangan ini mulai muncul fenomena yang disebut dengan budakcinta atau bucin. Definisi bucin sendiri belum tercantum secara resmi pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun, bucin seringkali diartikan sebagai pasangan yang menunjukan perilaku secara berlebihan untuk mencari perhatian, merasa disayangi, atau dicintai oleh pasangannya. Bucin juga sering dinilai dalam konotasi negatif. Istilah bucin biasanya diberikan pada seseorang yang seolah-olah rela melakukan dan mengorbankan segalanya untuk pasangannya.
Meskipun bucin seringkali dilihat negatif, namun hal ini tidak sepenuhnya benar. Perilaku bucin mungkin saja memberikan dampak yang positif jika disalurkan atau diekspresikan dengan cara yang sesuai. Begitu sebaliknya, ketika ditunjukkan dengan cara yang kurang tepat, tentunya akan mengarah pada hasil atau dampak yang negatif. Oleh karena itu, penting bagi orang yang sedang menjalin hubungan romantis untuk dapat mengetahui perilaku berpacaran yang “sehat”. Beberapa dampak negatif dari perilaku bucin saat berpacaran misalnya:
Perilaku bucin secara tidak sehat dan terus menerus dapat berdampak pada kesehatan mental orang yang melakukannya. Salah satu dampak yang mungkin terjadi adalah adiksi terhadap cinta. Adiksi cinta sendiri dapat didefinisikan sebagai romantisme yang tidak dewasa, yaitu ketika pasangan melewati batas privasi pasangannya, melibatkan perilaku tidak terkendali yang berulang, dan menyebabkan konsekuensi negatif dalam kehidupan dirinya maupun pasangan.
Pada awalnya adiksi cinta akan memunculkan perasaan yang menyenangkan dan pemikiran obsesif, sehingga seseorang terus merasa ingin bersatu dengan pasangannya. Sayangnya, jika terjadi secara berlebihan, dapat mengganggu fungsi kehidupan kedua pasangan tersebut. Terdapat beberapa tanda maupun pemikiran obsesif yang dimiliki seseorang dengan adiksi cinta, misalnya:
Konsekuensi dari adiksi cinta yang dimiliki seseorang terhadap pasangannya dapat berbeda-beda, tergantung dari tingkat adiksi yang dimiliki. Pada tingkat tertentu, bisa mencapai dampak yang serupa dengan adiksi narkotika. Beberapa konsekuensi dari adiksi cinta, misalnya:
Beberapa contoh tindakan “tidak sehat” yang dilakukan oleh seseorang dengan tanda-tanda adiksi cinta adalah mengirimkan pesan dan panggilan telepon setiap waktu kepada pasangannya, sulit bergaul dengan orang lain karena terobsesi terhadap pasangan, serta terlalu posesif terhadap pasangannya.
Maka dari itu, penting untuk memiliki hubungan romantis yang sehat, dan memilih perilaku secara bijak, sehingga sebuah hubungan dapat berjalan dengan adaptif, serta kedua pasangan tetap bisa mendapatkan manfaat kesehatan mental yang baik dari hubungan romantis tersebut. Kalau kamu merasakan hal yang tidak nyaman dalam hubunganmu, lebih baik konsultasikan dengan tenaga profesional ya. Jadi, apakah hubunganmu sudah sehat?
Jika kamu bingung atau butuh bantuan dalam mengatasi masalahmu yuk jadwalkan sekarang konsultasi dengan psikolog profesional kami, kamu bisa menghubungi bagikanceritamu.com